DHAARR! DI MAKOBRIMOB
Jika di teliti satu persatu dari rangkaian kejadian di Mako Brimob dan Bom Surabaya,banyak sekali pertanyaan yang sulit ditemukan jawabannya. Sebagai contoh sederhananya beberapa pertanyaan atau lebih tepatnya "unek-unek" mengapa dalam kasus Mako Brimob, polisi berbeda-beda dalam memberikan
pernyataan kepada wartawan? Mengapa kasus peledakan bom terjadi di
Surabaya dan Riau, bukannya di Jakarta? Apakah memang ada upaya untuk
menghindari imej buruk di mata internasional karena bertepatan dengan
acara Asian Games? Mengapa teroris ini tidak sekalian mengincar agenda
Asian Games yang lebih besar sorotannya? Apakah aktor intelektual ini
masih memikirkan dampak serangan terhadap kepentingan nasional, jika iya
maka siapa pelakunya?
Saat ini gejala tersebut sudah muncul. Sejumlah orang yang menganggap bahwa kejadian terorisme adalah settingan dan rekayasa pemerintah diburu aparat. Mereka diciduk dan ditangkap atas pasal penyebaran berita palsu. Sebenarnya, jika kita mau sedikit berpikir dengan paradigma sosiologis, adanya pandangan bahwa aparat merekayasa kejadian terorisme sudah dimulai oleh Mantan Presiden RI yang keenam Abdurrahman Wahid. Pandangan semacam itu lahir karena adanya kejadian di lapangan dan minimnya kepercayaan publik terhadap pemerintah. Seharusnya, kepercayaan publik itu diraih kembali dengan cara persuasif, bukannya semakin represif.
Kala itu, sambil menatap kobaran api dengan penuh kegembiraan, Hitler mengatakan: “Api ini hanyalah sebuah awalan.” Apakah pelaku pembakaran Nazi atau bukan, Hitler melihat sebuah peluang politik: “Tidak akan ada belas kasih sekarang. Siapapun yang menghalangi jalan, akan kita habisi.”
Apakah hari ini Adolf Hitler terlahir kembali?
[kiblat]





