Pilihan cuma dua; cinta Islam atau cinta demokrasi. Tak mungkin ada dualisme cinta dalam satu hati. Hanya "slogan dari dan oleh rakyat untuk rakyat" apakah benar demikian?
Namun, dalam perjalanannya sangat sulit memetakan yang bernama rakyat. Siapa sesungguhnya yang layak dan patut menyandang sebutan rakyat?
Islam menghargai naluri
Islam memberikan kanal untuk mengontrol dan mengawal agar tidak liar, bukan mematikannya.
Manusia
punya naluri seksual. Islam mengawal dan memberinya saluran berupa
pernikahan halal agar terkendali. Beda dengan Barat yang membebaskan
naluri seksual liar tanpa kendali. Sebaliknya Nasrani menutup sama
sekali dengan ‘mengharamkannya’ untuk pendeta dan suster.
Dakwah dan Jihad
Manusia punya naluri menuntaskan masalah dengan kekerasan. Naluri ini juga melekat pada binatang. Jika cara negosiasi kekeluargaan gagal, manusia secara naluri akan ganti cara dengan kekerasan.
Islam mengemban misi menebar al-haqq kepada umat manusia, bukan hanya
agar diketahui tapi juga dilaksanakan. Tentu cara pertama dengan
menyampaikannya secara persuasif. Cara ini dinamakan dakwah.
Ketika cara persuasif gagal, ditolak, dimusuhi dan dilawan, bahkan para
penyerunya dibunuh, tentu naluri kekerasan akan muncul. Baik kekerasan
dalam makna defensif membela diri, maupun ofensif untuk menjinakkan
kekuatan penolak al-haqq.
Cara ini dilembagakan oleh Islam dengan syariat bernama jihad. Tujuannya agar kemuliaan Islam bisa dipelihara ketika menghadapi kebrutalan kaum kafir.
Pada sisi lain, bertujuan memberi koridor agar saat menggunakan kekerasan dalam membela Islam dilakukan dengan baik sesuai aturan akhlaq Islam dan tidak menabrak batas halal haram.
Demokrasi adalah sistem yang mengharamkan pendekatan kekerasan. Siapapun
yang memaksakan keinginan dengan kekerasan akan dibully dalam sistem
demokrasi, meski membawa misi al-haqq dan dilakukan oleh jumlah
mayoritas.
Satu-satunya cara yang dibenarkan demokrasi adalah musyawarah
mencari mufakat, loby-loby politik atau adu perolehan suara.
Oleh karenanya Barat menjadikan demokrasi sebagai alat kendali untuk
menjinakkan umat Islam. Syariat yang paling ditakuti Barat adalah jihad.
Sementara alat paling efektif menjinakkannya adalah sistem demokrasi.
Maka
strategi Barat adalah terus menjaga citra demokrasi jangan sampai ada
yang mengusiknya. Demokrasi menjadi konsep suci yang nyaris tanpa cela.
Jika ada cela, selalu yang disalahkan hanya oknumnya.
Celakanya,
sejauh ini umumnya umat Islam masih memandang demokrasi sebagai benda
suci, dan mencintainya sepenuh hati, seperti yang diinginkan Barat.
Padahal pandangan ini menyebabkan bias dalam melihat Islam secara utuh. Sekali lag pilihan cuma dua; cinta Islam atau cinta demokrasi. Tak mungkin ada
dualisme cinta dalam satu hati. Wallahua’lam bis shawab. Sumber
Sumber : Telegram Islam Mulia
Penulis : @elhakimi
Editor : Abu Kholid





