Perang global melawan terorisme ini sebenarnya misi lama kaum Barat, hanya berganti temanya saja, hal ini kian hari semakin terlihat jelas seiring perjalanannya yang tak sesuai dengan arti yang sesungguhnya; 'perang global melawan terorisme', teroris yang mana yang mereka maksudkan, teroris yang seperti apa?
Me-bombardir warga secara berutal tanpa aturan dan kemanusiaan, yang menewaskan bayi, anak-anak, wanita dan kaum lemah (rakyat sipil) yang angkanya sudah mencapai ribuan dalam perang koalisi yang mereka pimpin, apakah demikian cara memerangi 'terorisme' yang mereka kampanyekan?
Begitu juga kata-kata yang di ucapkan Presiden George W. Bush dan pemerintahannya. Setelah serangan 11 September, Bush menyebut ‘perang melawan terorisme’ sebagai ‘perang salib.’ Pemerintahan Bush mengartikan perang melawan terorisme sebagai salah satu perang suci melawan Muslim.
Trump tidak menggunakan kata ‘Perang Salib,’ namun terdapat tema teokratis kristen yang sangat nyata dalam deklarasinya untuk ‘memperkuat persekutuan lama dan membentuk persekutuan baru’ dalam perang melawan terorisme radikal Islam.
“Landasan politik kita adalah kesetiaan total terhadap Amerika Serikat. Dan melalui loyalitas kita terhadap negara kita, kita akan menemukan kembali loyalitas kita terhadap satu sama lain,” Kata Trump.
Segera setelah mengemukakan kembali komitmennya untuk melakukan perang, ia menambahkan, “Ketika kita membuka hati kita untuk patriotisme, tidak ada ruang bagi prasangka.
Injil mengatakan pada kita,
‘Betapa bagus dan menyenangkannya ketika manusia-manusia Tuhan hidup bersama dalam kesatuan.'”Ini adalah seruan untuk perang suci, sebuah pengukuhan terhadap perang dan pertumpahan darah dengan menegaskan bahwa semua kekerasan yang dilakukan oleh orang Amerika disetujui oleh Tuhan.
“Kita harus membicarakan pikiran kita secara terbuka, memperdebatkan ketidaketujuan kita dengan jujur, namun selalulah mengejar solidaritas. Ketika Amerika bersatu, Amerika tidak dapat dihentikan. Tidak boleh ada ketakutan—kita telah dilindungi dan akan selalu dilindungi.”
“Kita akan dilindungi oleh laki-laki dan wanita luar biasa dalam militer dan aparat penegak hukum kita, dan yang terpenting, dilindungi oleh Tuhan.”
Terkait dengan kata-kata “perang salib” yang disampaikan Bush, James Carroll menulis untuk The Nation pada tahun 2004 mengenai Paus Katolik pada masa perang salib. Sang Paus ingin mengatasi “terusirnya” umat kristen post-millennial selama ratusan tahun. Ia pun menyerukan sebuah Perang Suci.
Umat Islam dianggap kafir karena mereka merebut Tanah Suci.
“Saat itu, pendudukan tersebut didefinisikan sebagai penghinaan terhadap Tuhan yang tidak dapat ditoleransi,” kata Carroll. “Tanah suci harus direbut.
Dalam beberapa bulan sejak seruan Paus, 100.000 orang ‘mengangkat salib’ untuk mengambil kembali Tanah Suci demi Kristus.
” Carrol membandingkan jumlah orang yang berhasil dimobilisir oleh Paus waktu itu dengan jumlah hari ini. Proporsi seratus ribu penduduk Eropa waktu itu sama dengan lebih dari sejuta orang Eropa hari ini, “yang meninggalkan segalanya untuk pergi berperang.”
Carroll melanjutkan, “Dengan nama Yesus, dan berkah Tuhan yang pasti, para salibis melancarkan serangan yang hari ini bisa diistilahkan dengan shock and awe (istilah yang populer merujuk pada strategi serangan militer AS di Irak), di tempat manapun yang mereka tuju.
Di Yerussalem, mereka secara kejam membantai Muslim dan Yahudi—dan bisa dikatakan berarti seluruh penduduk kota tersebut.”
Baca: Perang suci Donald Trump
Sumber





