Home »
Share Media
» Perang Suci Donald Trump
Perang Suci Donald Trump
Jika Barat mengatakan ini (perang global melawan terorisme) adalah 'perang suci' antara salib dan Islam, adalah sebuah kabar gembira bagi kelompok-kelompok pejuang yang di cap ekstrimis, tentunya akan sangat senang jika dengan Trump menyebarkan retorika ini, dapat di pastikan jajaran prajurit radikal Islam mungkin akan bertambah banyak.
Trump di bawah kekuatan Kristen pundamental
Nafsu membunuh meninggalkan jejak kekerasan yang nyata, dan Carroll berpendapat, invasi keagamaan dan perang salib “telah membangun identitas Barat yang berlawanan sama sekali dengan Islam, kelompok oposisi yang masih survive hingga hari ini.”
Trump, terutama didukung oleh kekuatan kristen fundamental yang dipimpin oleh Wakil Presiden Mike Pence, bertujuan untuk membuat identitas Barat ini sebagai bagian utama dalam perang melawan terorisme.
Dengan demikian, para petugas negara pun akan lebih tidak sensitif terhadap kritik mengenai apakah pantas menggunakan kata-kata yang menunjukkan bahwa Amerika sedang mengobarkan perang suci.
Bush secara terselubung, dan terkadang terang-terangan, menggunakan cara pandang bahwa terjadi benturan peradaban antara Barat dan Islam, kesan yang coba dihindari oleh Barack Obama. Ia tidak pernah menyerukan identitas Barat ini untuk menyatukan masyarakat.
Ketika ia membahas terorisme dalam pidato pengangkatan keduanya, ia berbicara mengenai kemungkinan untuk menyudahi peperangan abadi.
“Kita akan membela rakyat kita dan menjunjung nilai-nilai kita dengan kekuatan bersenjata dan aturan hukum,” kata Obama. Kebalikannya, Trump memerintahkan pemerintah Amerika untuk tidak ragu-ragu dalam membunuh Muslim radikal karena Tuhan ada di sisi Amerika.
Proyek untuk mempertahankan hegemoni atau dominasi Amerika di dunia berlanjut dengan dahsyat semasa pemerintahan Obama, yang mengakibatkan kematian jutaan rakyat sipil di Timur Tengah. Sepanjang tahun 2016, AS menjatuhkan 26.171 bom di tujuh negara mayoritas Muslim.
Menggunakan drone predator, ribuan terduga militer atau tersangka teroris, dan tentu saja rakyat sipil, dibunuh di negara-negara ini. Obama berusaha mundur dari penyiksaan, meskipun ia tidak menuntut mantan petugas pemerintahan Bush atas penyiksaan yang mereka lakukan.
Membingkai perang permanen melawan Islam radikal sebagai perang yang didukung oleh Tuhan Kristen adalah bingkai yang dapat digunakan untuk mengembalikan teknik penyiksaan.
Ini adalah undangan untuk tidak memanusiakan “musuh” dan melakukan semua jenis kekerasan; tidak hanya atas nama kebaikan Amerika, namun juga atas nama moral dan pertahanan Kristen. Semua itu dibutuhkan untuk melawan siapapun yang mengancam peradaban mereka.
Pastinya, ini adalah retorika yang, sebagaimana digunakan oleh para petugas negara, akan mendorong kelompok kulit putih Amerika untuk mengikuti prasangka mereka dan melakukan kekerasan terhadap warga kulit coklat yang mereka anggap sebagai ancaman.
IS dan kelompok yang dianggap ekstremis lain tentunya akan sangat senang jika dengan Trump menyebarkan retorika ini. Jika Trump dan Pence mendeklarasikan fase baru perang yang dijanjikannya semasa pidato pelantikan kemarin, jajaran prajurit radikal Islam mungkin akan bertambah banyak.
Mereka tidak akan mundur dari tentara Amerika yang mengklaim “dilindungi Tuhan”. Banyak negara akan menyaksikan kehancuran yang lebih buruk dari perampokan dan pendudukan militer asing. Eskalasi pembunuhan besar-besaran pun mungkin akan naik secara drastis. Sumber
Baca: Memahami Misi Barat (Koalis) Atas Perang Global Melawan Terorisme





