With The Truth

Blog ini semetara of dulu sob..

Reading Articles 1


Strategi Dalam Meraih Dukungan di Wilayah Konflik

Ketika di suatu daerah terjadi situasi tawahusy (baik di daerah yang kita kelola, atau daerah di sekitarnya atau yang berjauhan dengannya) maka secara otomatis manusia akan terpecah kepada beberapa kubu, karena ingin cari selamat mereka akan merapat kepada orang-orang yang dipandang sebagai tokoh, atau merapat kepada suatu organisasi (baik partai atau komunitas jihadi) atau organisasi militer yang dikendalikan sisa-sisa tentara dan polisi rezim murtad sebelumnya.

Dalam situasi seperti ini, untuk merekrut manusia agar berfihak kepada kebenaran adalah dengan membentuk tim yang mampu mengelola dengan baik wilayah yang dikuasai, sambil menggencarkan propaganda media yang menjelaskan bahwa wilayah-wilayah tawahusy yang kita atur telah mencapai stabilitas keamanan, keadilan di bawah hukum syariat, rakyatnya saling tolong menolong, bisa  melakukan I’dad, tadrib dan pelatihan untuk meningkatkan skill.

Dengan kedua cara ini, insya Allah, para pemuda di wilayah lain akan datang berbondong-bondong ke wilayah-wilayah yang kita kuasai karena terdorong keinginan untuk membelanya atau hidup di bawah naungannya walaupun mungkin dari sisi penghidupan duniawi kita masih kekurangan, atau musuh masih melakukan tekanan kepada kita.

Intinya: langkah pertama meraih dukungan di fase idarah tawahusy adalah mengelola wilayah yang kita kuasai secara professional.
Adapun langkah-langkah lainnya di fase ini, kurang lebih jika kami ringkas adalah sebagai berikut:

  1. Meningkatkan kualitas keimanan:
Meningkatkan iman adalah cara paling cepat untuk merekrut dukungan masyarakat yang hidup di wilayah yang kita kendalikan.

Jadi beda antara ketika manusia menerima pemerintahan kita karena mencari rasa aman, dengan ketika mereka bergabung ke barisan kita karena terdorong motivasi ingin membantu misi-misi kita, berlatih dan berperang bersama kita dan lain sebagainya.

Meningkatkan mentalitas iman masyarakat dalam situasi seperti ini memudahkan kita merekrut dukungan mereka agar mereka bergabung bekerja di barisan kita.

  1. Komunikasi langsung:
Untuk meraih dukungan dari wilayah tetangga yang dikelola oleh kelompok lain, kita mesti mengirim seorang duta kepada pihak berwenang disana untuk mengajak mereka bersatu dalam ikatan tauhid dan jihad.

Mungkin saja mereka agak ketakutan bergabung total dengan kita karena khawatir musuh akan memperlakukan wilayah yang mereka kuasai sama dengan wilayah kita. Maka dalam kondisi seperti ini, hendaknya kita tawarkan kepada mereka kerjasama dalam skala yang lebih kecil yaitu mencapai beberapa tujuan yang syar’i. Mungkin untuk menerima tawaran ini pun mereka masih takut.

Jika ya, maka kita beralih kepada pilihan terakhir, yaitu ketika kita menyadari mereka menolak dua tawaran tadi, maka kita harus katakan kepada mereka bahwa kita tidak mau mendengar suatu hari nanti wilayah mereka itu dikelola dengan selain hukum syariat, jika itu terjadi maka pemerintahan mereka akan diperlakukan sama seperti pemerintahan musuh.

Jika pilihan ini telah telah mereka terima, maka kedekatan hubungan kita dengan mereka hanyalah urusan waktu.
Satu hal lagi yang kita perhatikan dalam hal ini adalah keberadaan kabilah-kabilah yang di saat diserang musuh dari luar mereka mengandalkan kekuatannya dari kentalnya fanatisme golongan mereka, baik musuh itu sisa-sisa aparat murtad, mafia-mafia terorganisir, maupun serangan-serangan tentara salib.

Ketika menjumpai fanatisme kesukuan seperti ini, jangan pernah terfikir untuk menyuruh mereka membuang rasa fanatismenya. Tugas kita adalah mengarahkan dan mengubah fanatisme mereka itu kepada fanatisme yang baik.

Bagaimanapun mereka punya potensi dan kekuatan, jangan sampai ajakan kita justeru membuyarkan kekuatan tersebut (dan membuyarkan kekuatan mereka bukan perkara yang mudah). Jalan terbaik adalah mengubah arah fanatisme itu agar menjadi fanatisme dalam rangka memperjuangkan kalimat Allah, apalagi biasanya mereka rela berkorban ketika membela prinsip dan kemuliaan yang mereka yakini kebenarannya.

Mula-mula, kita mesti mengambil hati tokoh-tokoh panutan mereka dengan uang atau yang lain. Ketika pengikut mereka telah berbaur dengan pasukan kita dan keimanan telah merasuk ke dalam hati mereka, dapat dipastikan mereka tidak akan menerima perintah apapun dari tokoh-tokoh mereka yang tidak sesuai dengan syariat. Fanatisme itu masih ada, tapi kini telah berubah menjadi fanatisme positif, bukan fanatisme negatif yang selama ini mereka jalani.

  1. Memberi maaf:
Jika ada beberapa tokoh atau satu rombongan orang kafir asli maupun murtad tertangkap oleh kita, yang jika mereka kita maafkan tidak akan menimbulkan bahaya besar, atau pemaafan itu membuat hati mereka tunduk lalu mereka bergabung bersama para pengikutnya ke barisan orang-orang beriman, atau minimal menghentikan kejahatan yang selama ini mereka lalukan kepada kita (kecuali orang kafir murtad, jika setelah ditangkap ia menyatakan diri kembali masuk Islam maka tidak ada maaf baginya, sebab ia masuk Islam setelah tertangkap, kita boleh memilih ketika itu apakah memaafkannya atau membunuhnya), saya katakan: jika demikian keadaannya dan jika mereka dibunuh tidak akan mendatangkan maslahat yang lebih besar daripada maslahat memaafkan mereka, maka memaafkan mereka adalah sarana paling efektif untuk merekrut sebanyak mungkin pengikut.

  1. Membujuk hati (ta’liiful quluub) dengan uang:
Ketika dengan izin Allah kita telah memasuki fase menguasai suatu wilayah, maka berbagai sumber keuangan pasti mengalir deras kepada kita, sejak dari harta zakat yang bisa kelola secara lebih baik daripada sekarang, hingga ghanimah berupa perusahaan-perusahaan yang ditinggalkan tentara kafir ketika mereka mundur dari wilayah itu. Dan tentu saja, perusahaan itu lebih banyak perusahaan berskala kecil atau menengah.

Untuk perusahaan-perusahaan raksasa seperti pusat pengeboran minyak atau semisalnya, maka seperti yang sudah kami jelaskan, musuh akan mengerahkan segala kekuatan untuk melindunginya.

Sudah barang tentu nanti kita perlu anggaran-anggaran belanja, dan sebelum itu tentu ada hak-hak manusia yang harus kita tunaikan yang dengan tatakelola yang baik terhadap sumber-sumber pemasukan tadi, kita masih bisa menyisihkannya untuk menutup kebutuhan-kebutuhan perjuangan Islam.

Di sinilah tiba saatnya para ulama mujahid yang rasikhuunfil ‘ilmi merumuskan rincian hukum pembagian harta untuk tokoh-tokoh masyarakat yang hendak ditaklukkan hatinya agar mau memberikan loyalitas kepada kita. Penjelasan mengenai rincian ini harus dipublikasikan secara terbuka dan sejelas-jelasnya supaya manusia tidak lagi merasa curiga.

Kami tegaskan lagi, bahwa peperangan kita adalah peperangan tauhid versus kekafiran, perang iman melawan kesyirikan, bukan perang perebutan ekonomi, pengaruh politik atau merebut dukungan manusia.

Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa di antara bentuk siyasah syar’iyyah adalah berbicara dengan orang-orang yang jiwanya masih lemah dengan backgraound yang berbeda-beda melalui janji bahwa harta dan hak mereka akan kita kembalikan, bahkan kita akan mengambil kembali harta Allah yang saat ini masih dikuasai manusia-manusia jahat itu.

Dan kita mesti meyakini bahwa janji materi seperti ini bukanlah motivasi perjuangan para sahabat, tetapi ia hanya sebatas penghibur dan penyemangat agar orang-orang yang hatinya lemah mau menerima Islam.

Seiring pergaulan mereka dengan orang-orang mukmin dan melalui penempaan kerasnya pertempuran, dengan sendirinya keadaan mereka akan berangsur-angsur menjadi baik, lalu mereka akan tergerak oleh semangat membela tauhid sebelum yang lain-lain.

Itulah sebabnya, Allah Ta’ala Memerintahkan Rasulullahﷺ  agar berbicara kepada para tawanan dengan firman-Nya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: “Jika Allah Mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu”. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Anfal: 70).
Dalam sejarah nabi, banyak sekali contoh kasus bagaimana beliau menjalankan politik menggunakan harta untuk menundukkan hati manusia dengan aturan-aturan tertentu.

Di antara cara menaklukkan hati dengan harta adalah menaklukkan hati dengan jabatan resmi yang kurang strategis, seorang tokoh kabilah diberi suatu jabatan sebagai imbalan atas bergabungnya para pengikut dia ke barisan jihad, di bawah komanda pemimpin jihad, membantu merealisasikan misi-misi jihad.

Telah kami katakan bahwa setelah mereka berbaur dengan para pemuda jihad dan iman merasuk ke dalam hati mereka –dengan izin Allah—, nantinya mereka akan menentang tokoh kabilahnya jika akidah tokoh itu tidak sama akidah mereka –walaupun secara formal mereka masih berstatus sebagai pengikutnya.

Kita ingat bagaimana dulu Abdullah, putera dari Abdullah bin Ubay bin Salul, radhiyallahu anhu, siap membunuh bapaknya sendiri kapanpun diminta oleh Rasulullah SAW.

Sekarang, tinggal bagaimana qa’idah shalabah dan generasi muda mujahid kita mengetahui rincian hukum-hukum ta’liiful quluub. Hukum-hukum itu di antaranya:

Siapa yang berperang demi harta, di akhirat ia tidak mendapat pahala.
Siapa yang harta atau ghanimah bukan niat tujuan awal, tetapi sekedar pengiring, di mana niat pokoknya menjadikan Kalimat Allah sebagai yang tertinggi, maka pahalanya berkurang. Dan siapa yang berperang lalu pulang dengan selamat serta mendapat ghanimah, maka ia telah menyegerakan dua pertiga pahalanya. Sedangkan orang yang darahnya tertumpah dan hartanya habis, maka ia mendapat pahala utuh.
Dahulu orang-orang Anshar rela melepaskan ghanimah yang menjadi jatah mereka untuk para thulaqa’ yang hendak ditaklukkan hatinya. Para anggota kita harus menyadari, bahwa suatu saat bisa jadi di akhir pertempuran mereka akan mengalami apa yang dialami para shahabat itu, juga yang dialami anak-cucu shahabat dan para tabi’in. Bedanya bahwa fitnah harta itu lebih dahsyat daripada fitnah kefakiran, sementara kita tidak punya keteguhan hati seperti keteguhan para shahabat ridhwanullah alaihim.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:
“Bukan kefakiran yang kukhawatirkan akan menimpa kalian, akan tetapi yang aku khawatirkan
terhadap kalian adalah dunia ketika dibukakan di hadapan kalian lalu dunia itu membinasakan
kalian sebagaimana ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian…”

Share: