Kita semua kenal dengan sosok yang satu ini.. yaa Imam Bondjol adalah pahlawan nasional Indonesia abad ke 19 awal yang sering dianggap berpaham Wahabi, sang pemimpin paling terkenal dalam Perang Padri.
Selama beberapa dekade nama Tuanku Imam Bonjol, hadir di ruang publik
bangsa sebagai nama jalan, nama stadion, nama universitas, bahkan di
lembaran uang kertas Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia tahun 2001. Tuanku
Imam Bonjol (1722-1864), diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan
SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973.
Namun setelah peristiwa 11 September 2001, sempat muncul perdebatan seputar
Padri dan Imam Bondjol yang memakai sorban dan berjenggot panjang. Ada
yang protes dan menyatakan bahwa, seharusnya pemerintah Indonesia tidak
memasukkan teroris sebagai pahlawan Nasional Indonesia. Namum secara
umum para ahli sejarah Indonesia tidak mempermasahkan hal itu, toh
Soekarno dan Muhammad Hatta menyebut Imam Bonjol sebagai Pahlawan
Indonesia.
Di negeri Belanda pada tahun 1928, Mohammad Hatta menyampaikan
pidato berbahasa Belanda dengan tema “Free Indonesia.” Dalam
sambutannya, Hatta mengkritik kebijakan Pemerintah penjajah Belanda yang
memaksa rakyatnya untuk mempelajari legenda heroik William Tell,
Giuseppe Mazzini, Giuseppe Garibaldi, William orange, dan lain-lain
namun meremehkan tindakan bangsa Indonesia yang menentang Penjajahan
Eropa :
Menariknya dalam terjemahan buku Muhammad Hatta pada tahun 1972 kata scoundrels
diterjemahkan sebagai ‘teroris’. Kata yang biasa disematkan oleh
pemerintah penjajah Belanda pada para pejuang yang melawan kezaliman dan
penjajahan.
Selain Hatta, sejak tahun 1945 Sukarno menyebut Tuanku Imam Bondjol
sebagai yang pertama dari Pahlawan Tiga-sekawan yang telah berjuang
melawan ekspansi kolonial Belanda: Tuanku Imam Bondjol Minangkabau
Sumatera Barat, Diponegoro dari Jawa Tengah, dan Teuku Oemar dari Aceh.
Kondisi Minangkabau waktu itu penuh dengan kemerosotan moral dan
ekonomi di masyarakat. Masyarakat menginginkan perubahan dan perbaikan. Hingga
akhirnya terjadi upaya untuk melakukan perbaikan yang dipelopori para
ulama Minangkabau yang baru pulang dari Mekah, gerakan reformasi ini
kemudian disebut sebagai gerakan kaum Padri.
Gerakan tersebut mendapatkan dukungan yang begitu besar dari
masyarakat Minangkabau saat itu. Hal itu terjadi karena reformasi yang
digulirkan berhasil meningkatkan kemakmuran rakyat Minangkabau.
Disamping itu, rakyat sudah lama kecewa dengan kepemimpinan para
penghulu serta kemunduran perdagangan dan ekonomi minangkabau.
Christine Dobbin, seorang peneliti dari Australia dalam tulisannya yang berjudul “Economic Change In Minangkabau As A Factor In The Rise Of The Padri Movement, 1784-1830” mengakui
kemajuan yang berhasil dicapai atas reformasi (yang lebih tepatnya
disebut revolusi karena menyangkut berbagai aspek kehidupan walaupun
yang paling tampak adalah praktek beragama, ekonomi dan politik) yang
dipelopori oleh para ulama Minang ini.
Kepimpinan trio ulama Sumatra di era Padri, Tuanku Imam Bonjol di
Minangkabau, Tuanku Tabusei di Riau dan Tuanku Rao di Rao dan
Mandailing, pada era Padri di Sumatera adalah sebuah rangkaian jaringan
kepimpinan yang profesional, mengingat susahnya transportasi dan alat
komunikasi ketika itu. Sepak terjang mereka telah menjadi catatan
sejarah yang amat penting bagi penulis-penulis orientalis. Keberadaan
mereka sangat menyusahkan penjajah. Mereka juga meninggalkan kesan
mendalam terhadap Islamisasi Sumatra.
Sumber Rujukan:
Cristine Dobbin, Economic Change In Minangkabau As A Factor In The Rise Of The Padri Movement, 1784-1830.
Dalam; Indonesia Journal Volume 23, Publication Date: April 1977,
Cornell Modern Indonesia Project 1977. Cornell University’s Southeast
Asia Program.
Jeffrey Hadler, A Historiography of Violence and the Secular State in Indonesia: Tuanku Imam Bondjol and the Uses of History, dalam; The Journal of Asian Studies Vol. 67, No. 3 August 2008.
Bharuddin Che Pa & Afriadi Sanusi, Model Kepimpinan Ulama dalam Pemerintahan Negara Islam Era Padri di Sumatera. Jabatan Pengajian Arab dan Tamadun Islam, Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor.
/seramedia





