Para dokter di Ghouta Timur sedang berjuang untuk mengimbangi
gelombang masuknya pasien yang terluka oleh serangan pemerintah Suriah,
yang mereka katakan menargetkan warga sipil dan rumah sakit.
Hampir 300 orang telah terbunuh dan 1.400 luka-luka sejak serangan
terhadap satu-satunya daerah yang dikuasai pejuang di dekat Damaskus,
yang dimulai awal pekan ini. Pada hari Rabu pagi (21/02/2018), 24 orang
tewas dalam serangan yang dilakukan oleh rezim Suriah, menurut lembaga
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris.
Rabu malam, Duta Besar Rusia, Vassily Nebenzia, meminta Dewan
Keamanan PBB untuk bertemu pada hari Kamis untuk membahas situasi
tersebut.
“Pertemuan ini sangat diperlukan mengingat kekhawatiran yang telah
kami dengar hari ini untuk memastikan bahwa semua pihak dapat
mempresentasikan visi dan pemahaman mereka mereka mengenai situasi
terkini yang terjadi di Suriah dan merumuskan cara untuk keluar dari
situasi ini,” kata Nebenzia.
Selain melakukan bombardir dan serangan udara, relawan kemanusiaan dan penduduk mengatakan kepada Middle East Eye
bahwa pemerintah telah menjatuhkan bom barel di lingkungan perumahan.
Klaim ini didukung oleh banyak foto yang diposkan di media sosial.
Di tengah gencarnya serangan, kini persediaan obat sudah habis,
setelah pengepungan selama empat tahun. Seorang petugas medis mengatakan
bahwa situasi ini tidak boleh berlanjut.
“Kami tidak memiliki cukup ambulans yang tersisa untuk mengangkut
yang terluka, yang berarti banyak orang meninggal sebelum mereka sampai
ke fasilitas medis,” kata Dr Malik kepada MEE. Dia dan
satu dokter lain yang berbicara dengan MEE menolak memberi nama belakang
mereka karena khawatir akan keselamatan mereka.
“Rumah sakit telah dibanjiri dengan darah. Kami melakukan apa yang bisa kami bantu, tapi situasinya menjadi tidak tertahankan.”
Organisasi Medicine Without Borders melaporkan pada hari
Rabu bahwa 13 fasilitas yang mereka bantu di dalam Ghouta Timur telah
dibom sejak Senin; Dokter untuk Hak Asasi Manusia (Physician for Human Rights),
sebuah LSM medis lainnya, mengatakan bahwa delapan fasilitas yang
mereka bantu juga terkena serangan. Tidak disebutkan apakah ada kesamaan
antara fasilitas medis yang disebut oleh kedua organisasi tersebut.
PHR menyebut serangan tersebut sebagai “kejahatan perang yang
terang-terangan”, telah menjadi “kebiasaan sehari-hari” dalam perang
tersebut.
Sepuluh Operasi dalam Sehari
Dr. Malik dan dokter lainnya mengatakan bahwa serangan terhadap
fasilitas medis hanya menambah deretan pekerjaan yang sudah menumpuk.
“Ketika rezim tersebut menyerang tempat penampungan pengungsi, hal
itu menimbulkan sangat banyak korban. Kami berhadapan dengan 15-20 orang
sekaligus,” kata Dr. Malik.
“Tidak ada hubungannya apakah mereka adalah keluarga atau teman,
sebagai dokter, kami harus melanjutkan pekerjaan kami untuk
menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin. Menyelamatkan satu nyawa adalah
pencapaian besar bagi kami.”
Dokter Mohammed Salem, koordinator perawatan primer di Direktorat
Kesehatan Damaskus dan seorang ahli bedah setempat, mengatakan bahwa
sebagian besar peralatan telah hancur, kondisi di rumah sakit yang masih
terbuka sangat-sangat terbatas.
“Kami seperti beroperasi di bawah tanah. Kami tidak memiliki peralatan atau listrik,” katanya.
Dokter Rida, yang juga merawat pasien di daerah tersebut, mengatakan
kepada MEE bahwa tim medis telah bekerja dengan “kapasitas penuh”.
“Pada hari Selasa, saya melakukan 10 operasi. Salah satu kasus mengharuskan saya untuk mengamputasi kaki seseorang,” kata Rida.
“Target utama dari apa yang kita lihat adalah warga sipil. Pemboman ini adalah taktik yang digunakan untuk membungkam revolusi.”





