With The Truth

Blog ini semetara of dulu sob..

Keberhasilan Kolonial Belanda Meletakan Dasar Sekulerisme


Sekulerisme yang hari ini begitu kuat mengakar di negeri nusantara adalah warisan mereka (penjajah).
Istilah sekuler memang tidak begitu di kenal generasi-generasi penerus di negeri ini,karena memang tidak terlalu di pahami,apa sekuklerisme?

Islam dianggap sebagai unsur yang paling berbahaya dan mengancam hegemoni Penjajah Belanda di Nusantara

Kebijakan pemerintah kolonial Belanda dalam menangani masalah Islam sering disebut dengan istilah ”Islam politiek”, dimana Snouck Horgronje disebut-sebut sebagai peletak dasarnya. Dengan bekal pengalamannya di timur-tengah dan Aceh, Snouck, sarjana yang punya andil besar dalam penyelesaian perang Aceh ini berhasil menemukan suatu pola dasar bagi kebijakan pemerintah kolonial Belanda menghadapi Islam di Indonesia.

Nama lengkap Snouck Hurgronje adalah Willian Cristian Snouck Hurgronje. Ia lahir pada tanggal 8 Februari 1857 di Oosterhout, Belanda, ia adalah seorang orientalis (ahli ketimuran) berkebangsaan Belanda, ahli Bahasa Arab, ahli Agama Islam, ahli bahasa dan kebudayaan Indonesia, dan penasihat pemerintah Hindia Belanda dalam masalah Arab dan keislaman.

Snouck Hurgronje merupakan anak keempat pasangan pendeta JJ. Snouck Hurgronje dan Anna Maria, putri pendeta D. Christian de Visser. Van Koningsveld menceritakan bahwa perkawinan kedua orang tua Snouck tersebut didahului oleh suatu skandal hubungan gelap, sehingga mereka dipecat dari Gereja Herford di Thalthen (Zeeland).

Kisah tak sedap tersebut ternyata telah mendorong kedua orang tua Snouck untuk mempersiapkan anaknya menjadi seorang pendeta. Hal ini diyakini sebagai penebus kesalahan masa lalu yang telah diperbuat oleh kedua orangtuanya. Namun Snouck muda ternyata lebih tertarik mempelajari sastra Arab hingga akhirnya ia masuk Universitas Leiden pada tahun 1875 di usia 18 tahun. Mula-mula masuk Fakultas Teologi, kemudian pindah ke Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Arab.

Pada 24 Nopember 1880 studinya di Leiden berakhir dan ia meraih gelar doctor sastra Arab, tamat dengan predikat cumlaude dengan disertasi Het Mekkaansche Feest (Perayaan di Makkah). Setelah menyelesaikan pendidikannya, Snouck mengajar pada pendidikan khusus calon pegawai untuk Hindia Belanda (Indologie), di Leiden.

Pangeran Saudi disambut Snouck Hurgronje (kanan) saat berkunjung ke Universitas Leiden 1936
Pada tahun 1884 Snouck berangkat ke Arab, untuk memperdalam ilmu tentang Bahasa Arab, dunia Islam dan aspek-aspeknya.  

Snouck sangat paham bahwa tidak mudah untuk memasuki kota suci Mekah, apalagi bagi seorang Kristen seperti dia. Jalan yang paling mudah adalah dengan memeluk Agama Islam secara formal (pura-pura). Maka pada tanggal 16 Januari 1885, Snouck Hurgronje secara resmi masuk Islam di hadapan Qadhi Jedah dan menggunakan nama Islam Abdul Gaffar.

Namun, dalam surat kepada seorang teman sekaligus gurunya yang ahli Islamologi Jerman Theodor Noldeke, ia menyebutkan bahwa ia hanya melakukan idhar al-Islam, menjadi Islam secara lahiriah. Dalam suratnya tersebut ia juga menyebutkan bahwa semua tindakannya itu sebenarnya adalah untuk mengelabuhi orang-orang Aceh dan Hindia Belanda (sekarang Indonesia) agar mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.

Status baru ini memberikan keleluasaan buat Snouck untuk bebas memasuki kota Mekah dan mendapat akses untuk belajar Islam pada sejumlah Mufti di kota Mekah. Ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk belajar Bahasa Arab yang dikemudian hari sangat membantu dalam memahami berbagai aspek ajaran Islam. Ia berada di Mekah selama 6 bulan.

Snouck tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat, seorang tokoh Aceh yang kebetulan tinggal sementara di Makkah. Dari pengalamannya di Makkah, Snouck melihat sifat fanatik umat Islam Hindia Belanda, terutama orang Aceh, dalam melawan Belanda. Karena itu, niatnya untuk mengetahui Hindia Belanda semakin kuat.

Share: