Snouck Sang “Agen Intelijen”
Pada tanggal 1 April 1889, Snouck menandatangani kontrak selama dua tahun sebagai seorang ilmuwan sekaligus ‘agen intelejen’. Tujuan pertama adalah kota Penang, dan dari Penang Snouck bermaksud ke pedalaman Aceh dan kemudian tiba di sekitar Istana Sultan Aceh di Keumala. Tujuan perjalanannya itu adalah mengumpulkan informasi militer dan merekomendasikan strategi guna membantu memenangkan perang di Aceh.
Setelah masa dua tahun berakhir, pada 15 Maret 1891, Snouck Hurgronje diangkat menjadi Penasehat Bahasa-bahasa Timur dan Hukum Islam; dan pada tahun itu juga, 9 Juli, berangkat ke Aceh dan menetap di Kutaraja. Setelah hampir setahun berada di Aceh, pada 4 Februari 1892 Snouck kembali ke Batavia.
Antara tahun 1898 sampai 1903 Snouck Hurgronje sering pergi ke Aceh untuk membantu Van Heutsz yang susah payah berusaha menaklukkan Aceh. Pada saat itulah Snouck menjalankan misinya dengan bergabung dalam operasi-operasi militer selama 33 bulan di Aceh. Dalam moment ini Snouck Hurgronje memanfaatkan jabatannya dengan memimpin suatu dinas intelijen.
Penelitian dan pengamatannya menghasilkan empat jilid karya tulis berisi laporan intelejen dan rekomendasi untuk menaklukkan Aceh. Hanya dua tulisan awal yang kemudian diterbitkan dan dipublikasikan. Selain itu Snouck Hurgronje berhasil menawan 100 orang barisan perlawanan pada 5 September 1896 di Bouronce, pantai utara Aceh.
| Snouck saat memakai jubah |
Dengan kelebihannya tersebut tidaklah mengherankan sosok Snouck Hurgronje yang merupakan seorang ilmuwan orientalistik dan politikus kolonialis yang produktif seringkali dipertahankan oleh pemerintah kolonial Belanda. Hal ini terbukti ketika gelar guru besar di Leiden ditawarkan kepadanya, oleh Snouck Hurgronje baru diterima setelah Pemerintah mengabulkan syarat yang dimintanya.
Syaratnya ialah agar ia tetap boleh menjalankan jabatan sebagai penasehat dalam urusan-urusan yang menyangkut kepentingan golongan pribumi dan golongan Arab. Sehingga selain menjabat sebagai guru besar, ia juga menjabat sebagai Penasihat Menteri Jajahan.
Tanggal 12 Maret 1906 Snouck mengakhiri pengembaraannya di Indonesia dan kembali ke Belanda. Ia diangkat sebagai Guru Besar Bahasa dan Sastra Arab pada Universitas Leiden. Disamping itu ia juga mengajar para calon-calon Zending di Oestgeest. Ilmuan kontroversial dan berpengaruh ini meninggal dunia pada tanggal 26 Juni 1936, diusianya yang ke 81 tahun.
Snouck Hurgronje tidak hanya pandai dalam bidang politik, dimana dari pengalamannya di Aceh ia merumuskan apa yang kemudian dikenal sebagai “politik Islam”, dalam bidang akademik pun pemikiran Snouck sangat berpengaruh, terbukti dari beberapa karyanya yang digunakan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai panduan wajib untuk menentukan kebijakan-kebijakan yang akan diberlakukan di Hindia Belanda. Dialah ilmuwan yang dijuluki “dewa” dalam bidang Arabistiek-Islamologi dan Orientalistik, salah satu pelopor penelitian tentang Islam, Lembaga-Lembaganya, dan Hukum-Hukumnya.
Namun disamping berbagai kelebihannya dia banyak dikritik dengan segala kekurangannya. Seringkali ia begitu membabi buta membela kepentingan kolonial. Seringkali tindakannya tidak sesuai dengan teori yang ia tulis. Contohnya dalam pernikahan, dimana dia sangat menentang poligami bagi penduduk pribumi, tapi dalam kenyataannya dia sendiri mempraktekkan poligami dengan menikahi dua orang wanita pribumi disamping seorang istrinya yang berkebagsaan Belanda. Ketika dia selalu mengkapanyekan moral di sisi lain dia tidak mengakui anak-anaknya dari keturunan dengan wanita pribumi.
Pada saat itu, para ahli perbandingan Agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori “Evolusi” Darwin. Hal ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia. Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan peradaban ini.
Ringkasnya, snouck berpendapat, Agama dan peradaban Eropa lebih tinggi dan lebih baik dibanding Agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck selanjutnya. Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah berkata:
“Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk Negeri jajahan -maksudnya warga muslim Indonesia- agar terbebas dari Islam”.
Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap Islam tidak pernah berubah. [seraamedia]
Baca juga: Keberhasilan Kolonial Belanda Meletakan Dasar Sekulerisme





