Serangan yang bertubi-tubi oleh rezim Suriyah di kamp Yarmuk-Damaskus Selatan.
Diperkirakan 60% kamp pengungsian untuk warga Palestina tersebut hancur.
Menurut saksi mata yang berada disana bahwa kehancuran telah secara luas terjadi disebabkan oleh bom gentong, misil dan senjata berat.
Banyak keluarga yang terkubur dalam reruntuhan bangunan rumah mereka
Hingga hari Jumat (27/4), Fatimah termasuk dalam gelombang 5.000 pengungsi asal Palestina yang lari dari Yarmouk, mengungsi ke kota-kota tetangga tidak jauh dari Yarmouk. Badan internal PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan, di Yarmouk masih ada ribuan pengungsi lain yang kondisinya “terjebak”. “Yarmouk tidak berhenti jadi target serangan udara. Mereka, para pengungsi Palestina berjalan kaki bermalam-malam, menuju ke Yalda. Di sepanjang jalan antara Yarmouk dan Yalda, ratusan keluarga pengungsi terpaksa tidur di pinggir-pinggir jalan,” kata Chris Gunnes, juru bicara UNRWA kepada sejumlah media.
Laporan dari UNRWA merangkum, dalam beberapa hari terakhir, tragedi bombardir Yarmouk sedikitnya telah membunuh 19 warga sipil, dan melukai lebih dari 150 orang.
Sementara itu, perkiraannya masih ada lebih dari 1.500 keluarga yang terjebak di dalam Yarmouk. Termasuk di dalamnya keluarga pengungsi Palestina juga keluarga Suriah yang menetap di Yarmouk.
Kini, Fatimah bersama suami serta dua anaknya – berusia dua dan enam bulan – sementara tinggal di sebuah kamp perlindungan, di dalam kota Yalda. Tapi, suara dentuman rudal yang dijatuhkan jet-jet tempur rezim, tetap menjadi mimpi buruk di malam-malam hari. “Suara jet rezim yang melintas di Yarmouk terdengar sangat dekat. Seperti serangan udara tepat terjadi di atas kepala. Anak-anak setiap malam sulit untuk tidur, mereka tidak tahu apa yang terjadi. Mereka hanya bisa berkata takut. Persis seperti apa yang saya rasakan,” ujar Fatimah menutup cerita.
#LetsACTIndonesia





