Amerika Serikat telah resmi membuka kedutaan besarnya di Yerusalem tanpa mempedulika aksi protes warga Palestina. Setidaknya 58 warga Palestina meninggal pada bentrokan yang terjadi hari Senin kemarin (14/05) di Gaza dan lebih dari 2.700 lainnya terluka akibat tembakan peluru tajam, gas air mata, dan bom api tentara Israel yang dilancarkan ke arah para demonstran yang berkumpul di beberapa titik dekat pagar perbatasan Palestina dan Israel.
Demonstrasi tersebut bertepatan dengan protes terhadap pembukaan kedutaan Amerika Serikat di Jerusalem, dan merupakan bagian dari Great March of Return yang telah dimulai sejak 30 Maret 2018 lalu.
Sejak protes terjadi pada Maret 2018 lalu, pasukan Israel telah menewaskan sedikitnya 107 warga Palestina di daerah Tepi Barat dan melukai sekitar 12.000 orang.
Zeid Ra'ad Al Hussein, komisioner tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mengatakan tembakan peluru dari tentara Israel yang membunuh lusinan dan melukai ratusan orang di Gaza harus segera dihentikan. Dia juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan. Namun semua itu nihil
Kementerian luar negeri Israel mengatakan semua 86 negara dengan misi diplomatik di Israel diundang ke pembukaan kedutaan, dan 33 orang dikonfirmasi hadir. Namun, perwakilan Nigeria, Vietnam, dan Thailand tidak hadir sebagaimana dilaporkan.
Berikut ini beberapa negara yang menghadiri upacar pembukaan Kedutaan Besar AS:
- Albania
- Angola
- Austria
- Cameroon
- Republic of the Congo
- The Democratic Republic of the Congo
- Ivory Coast
- Czech Republic
- Dominican Republic
- El Salvador
- Ethiopia
- Georgia
- Guatemala
- Honduras
- Hungary
- Kenya
- Myanmar
- Former Yugoslav Republic of Macedonia
- Panama
- Paraguay
- Peru
- Philippines
- Romania
- Rwanda
- Serbia
- South Sudan
- Tanzania
- Ukraine
- Zambia





